Rabu, 10 April 2013

Bermain Balok untuk Latih Kemampuan Otak Anak



^  Dunia Anak ^

Bermain Balok untuk Latih
Kemampuan Otak Anak 
alt="how to optimize image" title="optimize image"/>


Bingung mau memberikan hadiah mainan untuk anak yang usianya di bawah tiga tahun? Mengapa tidak memberikan mainan susun balok?  Mungkin terdengar “tradisional”, tetapi permainan ini ternyata memiliki ragam manfaat jika diperkenalkan di usia yang tepat.


Lara Fridani S.Psi, M.Psych, dosen pendidikan anak usia dini (PAUD) di Universitas Negeri Jakarta menjelaskan mengenai baiknya permainan susun balok ini. Menurutnya, susun balok sama halnya dengan per -mainan puzzle, karena sama-sama dalam permainan konstruktif.

Dinamakan demikian, karena anak secara aktif membangun sesuatu menggunakan bahan/material yang sudah tersedia dengan pengetahuan yang dimilikinya. Anak menyusun serta merangkai balok-balok menjadi sebuah bangunan menara, gedung, rumah, jalan, dan sebagainya.

Bermain susun balok berkaitan erat dengan kemampuan intelektual dan koordinasi motorik anak. Di sini anak mengekspresikan gagasan yang ada dalam pikirannya, mengorganisasikan material yang ada, serta berkonsentrasi membuat bangunan atau suatu konstruksi. Karena jenis permainannya terstruktur, anak dapat mengembangkan berbagai aspek kecerdasan, seperti kognitif, spasial, sosial, dan emosi.


Contoh Alat Permainan untuk Melatih Keterampilan Gerak
1. Bola.
Memilih bola sebaiknya disesuaikan dengan latihan dan keterampilan yang ingin dicapai. Untuk melempar dengan satu tangan, anak butuh bola kecil yang pas dalam genggaman tangannya. Sedangkan untuk latihan melempar dan menangkap, dibutuhkan bola berdiameter 15 cm.

Perlengkapan olahraga seperti bola basket dan bola voli sebaiknya tidak diberikan pada usia balita, karena terlalu berat bagi mereka. Oleh karena itu, pilih bola yang ringan dan terbuat dari bahan yang lembut, seperti busa atau plastik. Bola dari bahan ini memperkecil kemungkinan terluka dan juga mengurangi kemungkinan anak takut menangkap bola yang jatuh ke arahnya.

2. Balok
Menyusun balok, apakah itu dibeli di toko mainan atau memanfaatkan kardus bekas susu, dapat melatih anak untuk bermain kreatif. Bermain konstruksi seperti susun balok sudah bisa dikenalkan di usia balita.

Untuk anak di bawah usia 2 tahun, balok-balok berukuran besar membantunya menggenggam dan menyusun material dengan lebih mudah. Jumlah balok yang mampu disusunnya pun masih sedikit serta berantakan di sana-sini. Bahkan mungkin, di bawah 2 tahun, anak baru mampu memegang dan membolak-balik baloknya. Mereka belum paham betul konsep keteraturan, urutan, bentuk, maupun ukuran. Anak usia 1-2 tahun dapat memanfaatkan untuk memilah-milah warna dan memisahkannya. Ini penting untuk melatih otot lengan dan otot kecilnya.

Menjelang usia 3 tahun barulah anak dapat diperkenalkan pada permainan susun balok ini. Ia sudah paham konsep besar-kecil dan urutan, karena kemampuan belajarnya sudah semakin baik. Dalam pikirannya sudah muncul ide akan diapakan balok-balok tersebut. Dapat dikatakan, anak sudah bisa memaknai permainan ini, yang diperlihatkan dengan munculnya membangun “rumah”. Ia akan menumpuk balok-balok yang ada sambil memerhatikan besar kecilnya, kesamaan warna, dan kesimbangan bangunan. Bentuk paling sederhana adalah menara yang dibangun setinggi-tingginya.

Ketika membangun balok-balok yang ada, anak sebetulnya melakukan peniruan terhadap apa yang dilihatnya dalam kesehariannya ditambah imajinasi dan kreasinya sendiri.


Selain itu, permainan semacam ini menyimpan segudang manfaat. Apa sajakah?

* Belajar mengenai konsep
Dalam bermain susun balok, akan ditemukan beragam konsep, seperti warna, bentuk, ukuran, dan keseimbangan. Orangtua bisa mengenalkan konsep-konsep tersebut saat anak bermain susun balok.

* Belajar mengembangkan imajinasi
Untuk membangun sesuatu tentunya diperlukan kemampuan anak dalam berimajinasi. Imajinasi yang dituangkan dalam karya mengasah kreativitas anak dalam mencipta beragam bentuk.

* Melatih kesabaran
Dalam menyusun balok satu demi satu agar terbentuk bangunan seperti dalam imajinasinya, tentu anak memerlukan kesabaran. Berarti ia melatih dirinya sendiri untuk melakukan proses dari awal sampai akhir demi mencapai sesuatu. Ia berlatih untuk menyelesaikan pekerjaannya.

* Secara sosial anak belajar berbagi
Ketika bermain susun balok bersama teman, anak terlatih untuk berbagi. Misalnya, jika si teman kekurangan balok tertentu, anak diminta untuk mau membagi balok yang dibutuhkan. Perlahan tapi pasti, anak juga belajar untuk tidak saling berebut saat bermain.

* Mengembangkan rasa percaya diri anak
Ketika anak bermain susun balok dan bisa membuat bangunan, tentu anak akan merasa puas dan gembira. Pencapaian ini akan menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuannya.


Perlu Dampingan
Agar permainan ini terasa manfaatnya, Lara tak lupa mengingatkan, orangtua perlu mendampingi anak tetapi jangan mudah memberikan bantuan. Yang terpenting, lakukan hal-hal berikut agar si balita benar-benar terstimulasi:

ü Sediakan material susun balok yang cukup untuk mendirikan  bangunan yang akan dibuat anak.
ü Sediakan waktu yang cukup. Jangan terburu-buru dan membatasi waktu.
ü Selama bermain, gunakan kosakata seputar dunia konstruksi untuk menambah pengetahuan dan kosakata anak.
ü Berikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan temannya dengan bermain susun balok bersama.
ü Amati perkembangan anak dalam bermain susun balok. Dari bentuk sederhana (menumpuk balok dari bawah ke atas), anak akan mengembangkan kemampuan menyusun model yang lebih kompleks.
ü Pastikan bentuk serta ukuran baloknya sesuai dengan usia anak. Di usia batita awal pilih balok berukuran besar agar mudah dipegang dan disusun. Jumlahnya tak perlu banyak. Mulailah dengan 3-4 balok.
ü Awasi anak saat bermain dengan balok. Jangan sampai balok tersebut dilemparkan atau digunakan untuk memukul anak lain ketika dirinya kesal.
ü Jangan mengintervensi anak dengan berbagai pengarahan ataupun perintah selama anak membuat suatu konstruksi.
ü Beri anak kesempatan untuk mengerjakan sendiri dan memutuskan sendiri apa yang akan dibuatnya.
ü Jangan lupa memberi pujian atas hasil karya anak apa pun bentuknya.

Kemampuan setiap anak dalam membuat suatu konstruksi tentunya tidak sama, meski usia sama. Hal ini bergantung pada kemampuan dan kematangan motorik halus masing-masing dan stimulasi dari orangtua selama ini.

Anda dapat membuat satu set balok dengan berbagai ukuran. Misalnya saja, kardus susu, kardus bekas pembungkus sabun, atau kardus bekas pembungkus benda lainnya dalam ukuran yang berbeda.

Sumber :

Demikian Artikel
 “ Bermain Balok Untuk Latih Kemampuan Otak Anak.”
Nantikan Artikel Menarik Laninnya di - Dunia Anak – Wasalam...

By. Ariel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar